a. Definisi
Leptospirosis merupakan penyakit yang termasuk dalam kategori penyakit yang bersumber pada binatang (zoonosis) yang paling banyak tersebar luas di dunia, khususnya yaitu di negara-negara beriklim tropis dan subtropis yang mempunyai curah hujan tinggi. Penyakit dari leptospirosis ini disebabkan adanya infeksi bakteri patogen yang berbentuk spiral berasal dari genus Leptospira serta dapat menular dari hewan ke manusia. Infeksi dari bakteri Leptospira disebabkan karena terjadinya kontak dengan air atau tanah yang telah terkontaminasi oleh urin maupun cairan tubuh lainnya dari hewan yang telah terinfeksi bakteri Leptospira. Bakteri Leptospira dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui kulit yang luka atau membran mukosa (hidung, mulut, dan mata). Di Indonesia, sumber penularan utama dari leptospirosis ialah tikus. Tikus yang telah terinfeksi oleh bakteri Leptospira biasa terlihat dalam keadaan sehat, karena bakteri ini mempunyai sifat komensal terhadap binatang inangnya. Terdapat juga beberapa spesies tikus yang menjadi reservoir leptospirosis di Indonesia yaitu ada Rattus exulan, Rattus tanezumi, Suncus murinus, Rattus norvegicus, Bandicota indica dan Mus musculus [1].
b. Epidemiologi
Leptospirosis merupakan masalah kesehatan masyarakat di seluruh dunia, khususnya di negara-negara yang beriklim tropis dan subtropis serta memiliki curah hujan yang tinggi. WHO menyebutkan kejadian Leptospirosis untuk negara subtropis adalah berkisar antara 0,1-1 kejadian tiap 100.000 penduduk per tahun, sedangkan di negara tropis berkisar antara 10 – 100 kejadian tiap 100.000 penduduk per tahun. Indonesia sebagai negara tropis merupakan negara dengan kejadian Leptospirosis yang tinggi serta menduduki peringkat ketiga di dunia di bawah China dan India untuk mortalitas [2].
Di Indonesia, kejadian leptospirosis hampir terjadi di semua provinsi terutama sebagian besar provinsi di Pulau Jawa dan Sumatera, Bali, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Barat. Kejadian leptospirosis sangat potensial menjadi KLB terutama saat terjadi banjir. Beberapa kabupaten di Indonesia dilaporkan pernah mengalami KLB leptospirosis dengan tingkat kematian yang tinggi yaitu di atas 7% [3]. Kejadian Luar Biasa (KLB) leptospirosis di Indonesia umumnya muncul setelah terjadinya bencana pasca letusan Gunung seperti pasca banjir besar di Jakarta tahun 2007, Merapi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tahun 2013, dan di Sampang Madura tahun 2013. Sejak tahun 2004 sampai 2013 telah terjadi kenaikan kasus leptospirosis di Indonesia dan semakin banyak provinsi yang melaporkan adanya kejadian leptospirosis. Oleh karena itu, penyakit tersebut menjadi perhatian Kementerian Kesehatan RI [3].
c. Etiologi
Leptospirosis disebabkan oleh infeksi bakteri spirochete Leptospira. Penyakit ini paling sering menyebar melalui paparan urin hewan yang terinfeksi baik dari kontak langsung maupun dari kontak dengan tanah atau air yang terkontaminasi urin tersebut. Hewan yang umum menularkan Leptospirosis meliputi hewan ternak seperti sapi, babi, dan kuda, tetapi mereka dapat berkisar dari hewan liar seperti rakun dan landak hingga anjing peliharaan. Lebih dari 160 spesies hewan yang ditemukan membawa penyakit ini tidak menunjukkan tanda/gejala jika terinfeksi. Mereka dapat menjadi vektor penyakit selama beberapa bulan setelah inokulasi, terkadang tidak pernah menunjukkan tanda/gejala infeksi [4].
d. Patofisiologi
Transmisi infeksi leptospira ke manusia dapat melalui berbagai cara, yang tersering adalah melalui kontak dengan air atau tanah yang tercemar bakteri leptospira. Bakteri masuk ke tubuh manusia melalui kulit yang lecet atau luka dan mukosa, bahkan dalam literatur disebutkan bahwa penularan penyakit ini dapat melalui kontak dengan kulit sehat (intak) terutama bila kontak lama dengan air. Selain melalui kulit atau mukosa, infeksi leptospira bisa juga masuk melalui konjungtiva. Bakteri leptospira yang berhasil masuk ke dalam tubuh tidak menimbulkan lesi pada tempat masuk bakteri. Hialuronidase dan atau gerak yang menggangsir (burrowing motility) telah diajukan sebagai mekanisme masuknya leptospira ke dalam tubuh [2].
Patogenitas leptospira yang penting adalah perlekatannya pada permukaan sel dan toksisitas selular. Lipopolysaccharide (LPS) pada bakteri leptospira mempunyai aktivitas endotoksin yang berbeda dengan endotoksin bakteri gram negatif, dan aktivitas lainnya yaitu stimulasi perlekatan neutrofil pada sel endotel dan trombosit, sehingga terjadi agregasi trombosit disertai trombositopenia. Bakteri leptospira mempunyai fosfolipase yaitu suatu hemolisis yang mengakibatkan lisisnya eritrosit dan membran sel lain yang mengandung fosfolipid. Organ utama yang terinfeksi kuman leptospira adalah ginjal dan hati. Di dalam ginjal bakteri leptospira bermigrasi ke interstitium tubulus ginjal dan lumen tubulus [2].
Pada leptospirosis berat, vaskulitis akan menghambat sirkulasi mikro dan meningkatkan permeabilitas kapiler, sehingga menyebabkan kebocoran cairan dan hipovolemia. Hipovolemia akibat dehidrasi dan perubahan permeabilitas kapiler salah satu penyebab gagal ginjal. Pada gagal ginjal tampak pembesaran ginjal disertai edema dan perdarahan subkapsular, serta nekrosis tubulus renal. Sementara perubahan yang terjadi pada hati bisa tidak tampak secara nyata. Secara mikroskopik tampak perubahan patologi berupa nekrosis sentrolobuler disertai hipertrofi dan hiperplasia sel Kupffer [2].
e. Manifestasi klinis
Leptospirosis mempunyai masa inkubasi berkisar 2 sampai 26 hari atau rata rata 10 hari. Leptospirosis pada manusia memiliki 2 fase yaitu fase septikemik atau leptospiremik dan fase imun. Penderita pada fase septikemik akan mengalami gejala seperti flu yaitu demam, nyeri otot betis, paha, dan pinggang terutama jika ditekan, mual, serta muntah. Gejala tersebut umumnya terjadi pada hari ke 4-7. Sedangkan fase imun dapat berlangsung selama 4-30 hari ditandai dengan peningkatan titer antibodi, demam hingga 400 C disertai menggigil, lemah, nyeri pada leher, perut, dan otot kaki. Selain itu, munculnya conjungtival suffusion dan conjungtival injection dapat menjadi tanda patognomik leptospirosis. Pada daerah endemis leptospirosis, sebagian besar infeksi tidak jelas secara klinis dan sering terjadi kesalahan diagnosis sebagai meningitis, encephalitis, atau influenza [3].
Gejala leptospirosis bervariasi mulai dari demam, ikterus, dan hemoglobinuria. Pada beberapa kasus, leptospirosis juga dapat menyebabkan gagal ginjal , perdarahan paru disertai gagal nafas, jaundice, perdarahan, hingga kematian. Tingkat keganasan leptospirosis tergantung dari serovar Leptospira yang menginfeksi. Beberapa serovar Leptospira diketahui bersifat virulen pada manusia yaitu L. cynopteri, L. icterohaemorrhagieae, dan L. javanica. Penderita leptospirosis kronis dapat bertindak sebagai pembawa penyakit (carrier) karena bakteri dapat bersarang di dalam ginjal dan dapat diekskresikan bersama urin mulai minggu pertama setelah infeksi dan dapat berlangsung sampai beberapa bulan. Seringkali dilaporkan kasus leptospirosis tidak menunjukkan adanya gejala klinis spesifik sehingga diagnosis tanpa pengujian sampel di laboratorium [5].
f. Alur penegakan diagnosis
Diagnosis leptospirosis sebagian besar ditegakkan berdasarkan adanya gejala klinis yang sugestif, disertai riwayat paparan risiko. Leptospirosis harus dicurigai pada setiap pasien dengan riwayat paparan risiko, dan salah satu dari berikut ini: sakit kepala, mialgia, lemas, ikterus, sufusi konjungtiva, oliguria, gejala iritasi meningeal, perdarahan, gejala gagal jantung atau aritmia, batuk, sesak napas, ruam kulit, atau bukti lain keterlibatan atau disfungsi organ [6].
Diagnosis dapat dilakukan dengan pemeriksaan mikroskopik, juga dengan pembiakan leptospira. Sampel klinis yang harus dikumpulkan untuk pemeriksaan tergantung pada fase infeksi. Spesimen berasal dari darah dan cairan serebrospinal (minggu pertama masa sakit) dan urin (sesudah minggu pertama sampai hari ke 40). Spesimen tersebut ditanam pada media Fletcher’s atau media EMJH dikombinasikan dengan neomisin atau 5-fluorouracil. Pada media ini, pertumbuhan akan terlihat dalam beberapa hari sampai 4 minggu. Adanya leptospira pada media ini dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop lapangan gelap atau menggunakan mikroskop fluoresen (fluorescent antibody stain) [2].
g. Diagnosis banding
Terdapat beberapa diagnosis banding yaitu: demam dengue dan demam berdarah dengue, influenza, malaria, yellow fever, pielonefritis, rickettsiosis, meningitis aseptik, hepatitis virus, demam tifoid, serta toksoplasmosis [7].
h. Pemeriksaan penunjang
ELISA untuk leptospirosis umumnya bergantung pada antigen sel utuh dari satu strain leptospira representatif untuk mendeteksi respons serologis terhadap infeksi dengan semua spesies Leptospira . Meningkatkan jumlah antigen yang digunakan untuk mendeteksi antibodi dengan ELISA dapat meningkatkan sensitivitas. Lateral flow assays (LFAs) telah muncul sebagai uji skrining berbiaya rendah untuk mendeteksi antibodi IgM akut terhadap leptospirosis [5].
Berbeda dari uji serologis lainnya, yang memiliki kompleksitas sedang dan memerlukan pengaturan laboratorium, LFA adalah uji kompleksitas rendah yang dapat dilakukan oleh personel non-laboratorium (misalnya, dokter) di tempat perawatan, seperti klinik perawatan primer yang merawat manusia atau hewan. LFA biasanya menggunakan antigen sel utuh yang serupa dengan yang digunakan dalam uji ELISA, tidak memerlukan peralatan, dan hasilnya dapat diperoleh dari spesimen darah dalam 15–20 menit [5].
Deteksi asam nukleat leptospira dalam darah atau jaringan bersifat diagnostik untuk infeksi, sementara deteksi dalam jaringan ginjal atau urin konsisten dengan infeksi atau kolonisasi. Darah lengkap akut adalah jenis spesimen terbaik untuk diagnosis cepat, namun, jendela untuk mendeteksi organisme dalam aliran darah sempit, hingga sekitar seminggu setelah timbulnya penyakit klinis [5].
Uji aglutinasi mikroskopis (MAT) melibatkan inkubasi pengenceran serial serum pasien dengan panel organisme leptospiral hidup sebagai antigen dan membaca aglutinasi yang dihasilkan di bawah mikroskop medan gelap. Keuntungan MAT adalah dapat dilakukan pada serum manusia dan hewan menggunakan teknik yang sama, meningkatkan nilai MAT dari perspektif One Health meskipun terdapat tantangan teknis [5].
i. Komplikasi
Komplikasi berat dapat terjadi pada penderita leptospirosis yaitu terjadi syok, perdarahan yang masif serta timbulnya ARDS. Syok ini terjadi dikarenakan perubahan homeostasis pada tubuh sehingga menimbulkan kerusakan di jaringan. Selain itu, leptospirosis juga dapat menyebabkan AKI, kerusakan liver, perdarahan di paru, vaskulitis serta ganguan jantung berupa miokarditis, perikarditis dan aritmia. Meskipun jarang, komplikasi leptospirosis dapat menyebabkan uveitis pada penderita setelah 2 tahun timbul gejala leptospirosis [7].
j. Tata laksana / Penatalaksanaan
Pengobatan leptospirosis umumnya dilakukan dengan pemberian antibiotik dari golongan penisilin, streptomisin, tetrasiklin, atau eritromisin. Pemberian penisilin atau tetrasiklin dengan dosis tinggi diketahui dapat memberikan hasil sangat baik. Pengobatan leptospirosis di Indonesia pada daerah endemis atau terjadi KLB dilakukan dengan antibiotik yang sesuai sejak kasus suspek ditegakkan secara klinis, sedangkan pada daerah bukan endemis atau KLB, pengobatan dilakukan ketika kasus probable ditegakkan. Pada kasus leptospirosis ringan yang ditandai dengan ikterik ringan, pengobatan dilakukan dengan doksisiklin 2×100 mg selama 7 hari (kecuali pada anak, ibu hamil, atau ada kontradiksi doksisiklin) atau amoksisilin 3×500 mg/hari pada orang dewasa dan 10-20 mg/kg BB per 8 jam untuk anak selama 7 hari, atau menggunakan makrolid jika ada alergi amoksilin [3].
Pada kasus leptospirosis berat (kasus suspek/ probable yang disertai ikterus, manifestasi perdarahan anuria/oliguria, sesak nafas , atau artimia jantung), pengobatan dapat dilakukan ceftriaxon 1-2 gram IV selama 7 hari atau penisilin prokain 1,5 juta unit terapi IM per 6 jam selama 7 hari atau ampisilin 4×1 gram IV per hari selama 7 hari, selain itu suportif juga diperlukan jika ada kompilasi seperti gagal ginjal, perdarahan organ, syok, dan gangguan saraf (neurologi). Menurut WHO, penderita leptospirosis akut dapat diobati dengan penisilin dosis tinggi, sedangkan penderita leptospirosis tidak akut dapat diobati dengan antibiotik oral seperti amoksilin, ampisilin, doksisiklin, atau eritromisin. Antibiotik generasi ketiga dari sepalosporin seperti seftriason, sefotaksim dan quinolon juga diketahui efektif digunakan sebagai obat leptospirosis [3] .
k. Prognosis
Prognosis pada leptospirosis umumnya baik dan dapat sembuh secara total. Namun beberapa pemulihan pasien dapat berlangsung berbulan-bulan hingga bertahun-tahun [7].
l. Pencegahan
Pencegahan leptospirosis dapat dilakukan dengan beberapa cara yakni sebagai berikut [1]: 1) Memberikan penyuluhan kepada masyarakat mengenai cara-cara penularan penyakit ini, yaitu seperti tidak berenang atau menyebrangi sungai yang apabila airnya diduga tercemar oleh Leptospira dan menggunakan alat-alat pelindung yang diperlukan apabila bekerja di perairan yang tercemar. Penyuluhan bisa dilakukan dengan penyebaran leaflet, poster maupun baliho. 2) Melindungi para pekerja yang bekerja di daerah yang telah tercemar dengan menyediakan seperti sarung tangan, apron, dan sepatu boot. 3) Mengenali air dan tanah yang memiliki potensi terkontaminasi dan mengeringkan air tersebut, bisa dilakukan pencegahan leptospirosis pada tempat penampungan air serta genangan air di lingkungan rumah dengan cara pemberian sodium hipoklorit (sumur, gentong, bak air, kubangan air parit dan air sawah) dan menggunakan chlorin diffuser (kolam, air hujan dan kubangan air sungai). 4) Memberantas hewan-hewan pengerat seperti tikus dari lingkungan pemukiman terutama pada pedesaan dan tempat-tempat rekreasi. 5) Memisahkan hewan peliharaan yang terinfeksi agar mencegah terjadinya kontaminasi pada lingkungan manusia, tempat kerja serta tempat rekreasi oleh urin hewan yang telah terinfeksi. 6) Imunisasi kepada hewan ternak dan binatang peliharaan dapat mencegah timbulnya penyakit, namun tidak mencegah terjadinya infeksi Leptospira. 7) Vaksin dapat diberikan namun harus mengandung strain domain dari Leptospira di daerah tersebut; 8) Imunisasi dapat diberikan kepada orang yang memiliki pekerjaan yang terpajan dengan Leptospira jenis serovarian tertentu, hal ini telah dilakukan di Jepang, Itali, dan Perancis. 9) Antibiotik profilaksis, doksisiklin telah terbukti bahwa efektif dalam mencegah leptospirosis pada anggota militer dengan cara memberikan dosis oral 200 mg seminggu sekali selama masa penularan di Panama. 10) Menutupi luka dan lecet dengan menggunakan pembalut kedap air terutama sebelum bersentuhan dengan lumpur atau air yang terinfeksi oleh bakteri Leptospira
Sumber:
1. Sijid, A. S., et al. Faktor-Faktor yang Berpengaruh Terhadap Kejadian Leptospirosis dan Pencegahannya. Media Informasi Sains dan Teknologi. 2022; 16(2): 214-220.
2. Mujahidah., et al. Leptospirosis dengan Gangguan Ginjal: Unja. 2023; 11(1): 117-122. Laporan Kasus. Jurnal Online
3. Sari, I. Z. R. Tinjauan Literatur: Leptospirosis di Indonesia. Majalah Kesehatan. 2021; 8(2).Rajapakse, S. Leptospirosis: Clinical Aspects. Clinical Medicine. 2022; 22 (1): 14-17.
4. Wang, S., Noel, D. Penyakit Leptospirosis. Treasure Island: Statpearls Publishing. 2024.
5. Sykes, J. E., et al. Peran Diagnostik Dalam Epidemiologi, Manajemen, Surveilans, dan Pengendalian Leptospirosis. Jurnal MDPI. 2022; 11(4): 395. 6. Rajapakse, S. Leptospirosis: Clinical Aspects. Clinical Medicine. 2022; 22 (1): 14-17. 7. Aziz, L. M. U. Z., Andreas, S. S. Tinjauan Aspek Klinis Leptospirosis. Continuing Medical Education. 2023.
Tanggal Post:
10 August 2025








Leave a Reply