a. Definisi
Kecacingan Ascariasis masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di negara berkembang termasuk Indonesia. Penyakit cacingan sering dianggap sebagai penyakit yang kurang penting oleh sebagian besar kalangan masyarakat karena tingkat ekonomi dan sosial masyarakat Indonesia belum merata. Pada umumnya penularan kecacingan ini melalui tanah, disebut dengan Soil Transmitted Helminth (STH). Ascariasis disebabkan oleh cacing Ascaris lumbricoides, yang merupakan cacing dari kelompok Nematoda parasitik yang dapat menyebabkan infeksi pada manusia. Ascaris lumbricoides umum dikenal sebagai cacing gelang yang tersebar di seluruh dunia, terutama di daerah tropis dan sub tropis dengan kelembaban udara yang tinggi dan hygiene sanitasi yang rendah [1].
b. Epidemiologi
Menurut data WHO tahun 2020, terdapat sekitar 1,5 milyar penduduk (24% dari populasi dunia) yang terinfeksi STH di seluruh dunia, biasanya pada lingkungan yang paling kekurangan dalam ekonomi dan miskin. Distribusi infeksi menyebar pada daerah tropis dan subtropis dengan jumlah paling besar adalah Afrika, Amerika, China dan Asia Tenggara. Usia anak merupakan risiko tinggi terinfeksi STH dan akan mengganggu pertumbuhan fisik, nutrisi dan kognitif. Jumlah anak pada usia anak pra sekolah dan sekolah di Indonesia yang membutuhkan penanganan untuk STH adalah 70.642.364 [2].
c. Morfologi
Ascaris lumbricoides, nematoda besar yang ditularkan melalui tanah, menyebabkan Askariasis. Cacing dewasa betina dapat mencapai panjang 20 cm hingga 30 cm, dan jantan dewasa hingga 15 cm hingga 20 cm. Nematoda ini berupa cacing gelang berwarna merah muda/kuning/putih. Cacing betina lebih tebal dan memiliki ujung belakang yang lurus. Cacing jantan lebih ramping dengan ujung belakang yang melengkung ke arah ventral dengan dua spikula kopulasi yang dapat ditarik. Rata-rata umur parasit dewasa adalah satu tahun, setelah itu mati, dan secara spontan tereliminasi saat keluar melalui saluran pencernaan [3].
d. Siklus Hidup
Ascaris lumbricoides keluar bersama dengan feses penderita. Siklus hidup Ascaris lumbricoides dimulai dari cacing dewasa yang tumbuh dari larva stadium 3 dan tinggal di dalam lumen usus halus. Cacing betina mampu menghasilkan 200.000 telur/hari setelah kawin dan telur tersebut akan dikeluarkan bersama dengan feses penderita. Kondisi tanah yang teduh, lembab, dan gembur, telur yang fertil bisa tumbuh dengan baik, sedangkan telur yang infertil pertumbuhannya terhenti. Telur fertil akan berkembang menjadi infektif dalam waktu 18 hari sampai beberapa minggu. Bila telur yang infektif tertelan bersama dengan makanan, maka telur yang berisi larva tersebut akan menetas di usus halus bagian atas. Dinding telur akan pecah kemudian larva keluar, menembus dinding usus halus dan memasuki vena porta hati. Larva beredar menuju dinding paru dengan aliran darah vena, lalu menembus dinding kapiler masuk ke dalam alveoli [1].
Migrasi larva berlangsung selama 15 hari. Setelah itu, masuk ke rongga alveolus menjadi bentuk larva yang matang, lalu naik ke trakea melalui bronkiolus dan bronkus, menuju ke faring sehingga menimbulkan rangsangan batuk, kemudian tertelan masuk ke dalam kerongkongan menuju usus halus, dan tumbuh menjadi cacing dewasa. Siklus hidup ini seluruhnya memerlukan waktu 2-3 bulan, sedangkan cacing dewasa jantan dan betina tersebut dapat hidup di dalam usus selama 1-2 tahun. Dua bulan sejak masuknya telur infektif melalui mulut, cacing betina mulai mampu bertelur dengan jumlah 300.000 telur/hari [1].
e. Cara Penularan
Penularan ascariasis dapat terjadi melalui beberapa jalan, yaitu masuknya telur infektif ke dalam mulut bersama makanan dan minuman yang tercemar, dapat tertelan melalui tangan yang tercemar telur infektif, dan terhirupnya telur infektif bersama debu udara dimana telur infektif tersebut akan menetas pada saluran pernapasan bagian atas, yang selanjutnya akan menembus pembuluh darah dan memasuki aliran darah [1].
f. Manifestasi klinis
Pada umumnya gejala ascariasis asimptomatik. Gejala dapat muncul hampir sama dengan kecacingan lainnya, yaitu penurunan berat badan hingga gambaran kurang gizi, anemia dan juga gangguan saluran pencernaan. Kecacingan dapat mengganggu absorbsi nutrisi pada usus halus yang berakibat kekurangan gizi danberdampak pada pertumbuhan fisik. Daya tahan tubuh menurun demikian juga penurunan kemampuan belajar pada anak dan penurunan produktivitas kerja. Hal ini akan mengakibatkan penurunan sumber daya manusia suatu generasi bangsa [2].
g. Alur penegakan
diagnosis Diagnosis Ascariasis dapat dilakukan melalui berbagai cara. Dapat didapatkan riwayat berupa rasa lemah, mudah lelah, penurunan berat badan, sulit berkonsentrasi, termasuk juga riwayat pernah buang air besar atau muntah disertai keluarnya cacing dewasa. Untuk memastikan diagnosis diperlukan pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan laboratorium berupa pemeriksaan feses. Pemeriksaan feses dapat dilakukan dengan beberapa metode secara kualitatif maupun kuantitatif, seperti pemeriksaan hapusan langsung (Direct Smear), apusan tebal (Kato’s Thick Smear), dan metode kuantitatif atau semi kuantitatif (Kato-Katz Smear) [1]. Pemeriksaan penunjang lainnya dapat menggunakan Sinar-X perut atau rontgen abdomen, ultrasonografi, dan CT scan dapat digunakan untuk menyingkirkan diagnosis lain yang mungkin memberikan presentasi serupa dan memvisualisasikan Ascaris lumbricoides itu sendiri [4].
h. Tatalaksana
Pengobatan terhadap Ascariasis dilakukan dengan memberikan anti-parasit kepada penderita. Albendazole dan Mebendazole merupakan obat pilihan untuk Ascariasis dan diberikan dalam dosis tunggal. Obat tersebut bekerja dengan membunuh cacing dewasa. Dosis Albendazole untuk orang dewasa dan anak di atas 2 tahun adalah 400 mg/oral. Rekomendasi World Health Organization (WHO) adalah anak-anak yang berusia 12-24 bulan adalah 200 gram. Sedangkan dosis Mebendazole untuk orang dewasa dan anak di atas 2 tahun adalah 500 mg/oral. Pyrantel Pamoate merupakan obat lain yang direkomendasikan untuk Ascariasis dengan dosis 10-11 mg/kg berat badan, dosis maksimum adalah 1 gram. Kadang-kadang pada Ascariasis berat diperlukan tindakan operasi untuk memperbaiki kerusakan dan menghilangkan cacing. Contoh komplikasi yang mungkin memerlukan tindakan operasi adalah obstruksi usus, obstruksi saluran empedu, dan usus buntu [1].
i. Komplikasi
Ascaris lumbricoides merupakan parasit yang menghuni usus manusia. Komplikasi infeksi ini dapat berupa obstruksi usus karena peningkatan beban cacing yang dapat menyumbat sebagian atau seluruh lumen usus. Obstruksi dapat menyebabkan perforasi yang menyebabkan kontaminasi rongga perut akibat isi saluran cerna sehingga terjadi peritonitis. Cacingan dapat menyebabkan penurunan kesehatan gizi, kecerdasan, dan produktivitas penderitanya. Komplikasi akibat infeksi ini juga dapat berupa kematian [4].
j. Prognosis
Penelitian dari Asia dan Afrika mengungkapkan bahwa pengobatan dosis tunggal dengan albendazole menghasilkan tingkat penyembuhan lebih dari 95% dengan pengurangan telur secara bertahap selama beberapa minggu berikutnya pada 995 kasus. Namun, relokasi pasien sangat penting untuk mencegah kekambuhan. Peningkatan sanitasi dasar dan penyediaan air minum bersih di area-area ini juga sangat dibutuhkan. Menghindari kontak dengan kotoran ternak, mengenakan sepatu yang tepat, dan pendidikan sangat penting dalam mencegah ascariasis [3].
k. Pencegahan
Mencuci tangan sebelum dan sesudah makan atau ketika mengolah bahan makanan mentah, memasak makanan hingga matang dan menghindari tertelannya tanah pada anak anak yang bermain, merupakan cara untuk menjaga kebersihan personal. Membuang hajat pada jamban yang standar, pemukiman yang jauh dari ternak dan pertanian yang menggunakan kotoran hewan sebagai pupuk juga merupakan cara untuk menjaga kebersihan lingkungan. Kebersihan personal dan lingkungan merupakan peran penting dalam mencegah penularan dan infeksi penyakit kecacingan [2].
Sumber:
1. Azizy, M. F., et al. Analisis Pemahaman Masyarakat Gen Y dan Gen Z di Jabodetabek Mengenai Penyakit Ascariasis. Prosiding Semnas Bio. 2022.
2. Sibuea, C. V. Penyuluhan Penyakit Kecacingan Ascariasis Kepada Masyarakat Desa Namkorambe Kabupaten Deli Serdang. Jurnal Pengabdian Kepada masyarakat. 2022;
3(1): 1-9. 3. Daniela, F., Corvino, L., Shawn Horall. Askariasis. Treasure Island: Statpearls Publishing. 2023.
4. Azura, A. J., Betta, K., Risti, G. Obstruksi Intestinal Akibat Infeksi Ascaris Lumbricoides. Journal of Medula. 2023; 13(1):141-145.
Tanggal Publikasi:
10 september 2025








Leave a Reply