Definisi
Sirkumsisi merupakan salah satu tindakan pembedahan minor yang dilakukan sebagai modifikasi bagian dari tubuh dengan melakukan pemotongan atau insisi sebagian kulup dalam atau preputium yang menutupi glands penis. Di bagian preputium terdapat koloni bakteri yang tumbuh dan berkembang pada 6 bulan pertama kehidupan menjadi faktor resiko infeksi saluran kemih [1].
Prosedur sirkumsisi dilakukan biasanya atas dasar agama, kebersihan, sosial, maupun kosmetik. Dari segi kesehatan sirkumsisi dapat mencegah kondisi-kondisi tertentu yang terutama sering terjadi pada anak-anak diantaranya phimosis dan paraphimosis. Dengan dilakukan sirkumsisi menjadikan penis seseorang menjadi lebih bersih sehingga dapat terhindar dari infeksi saluran kemih, selain itu juga dapat mengurangi resiko terjadinya karsinoma penis. Metode yang digunakan untuk melakukan tindakan ini adalah teknik guilottine, dorsumsisi, atau lainnya [2].
Epidemiologi
Studi menunjukkan bahwa sirkumsisi dapat menurunkan risiko terkena HIV (Human Immunodeficiency Virus) sekitar 60% pada laki-laki. Risiko terkena infeksi menular seksual lain, seperti sifilis dan chancroid juga berkurang pada laki-laki yang telah disirkumsisi. Sirkumsisi juga menurunkan risiko infeksi HPV (Human Papilloma Virus) pada penis sehingga risiko kanker serviks pada pasangan wanita juga berkurang [3].
Indikasi
Indikasi medis untuk sunat meliputi, tetapi tidak terbatas pada, fimosis, parafimosis, balanoposthitis, balanitis, keganasan kulup dini, balanitis zoon, kebutuhan kateterisasi intermiten jangka panjang, dan infeksi saluran kemih berulang. Pada orang dewasa, penyebab umum adalah fimosis, yang dapat menyebabkan kesulitan buang air kecil dan nyeri selama aktivitas seksual [3]. Sunat elektif mungkin diindikasikan di wilayah dengan tingkat infeksi HIV yang lebih tinggi, penyakit menular seksual tertentu seperti sifilis dan chancroid, dan infeksi human papillomavirus (HPV). Namun, sunat tidak memberikan perlindungan terhadap Chlamydia trachomatis, Neisseria gonorrhoeae, atau Trichomonas vaginalis . Indikasi keluarga, agama (Yahudi, Druze, dan Islam), budaya, dan preferensi pribadi diakui [4].
Kontraindikasi
Kontraindikasi terhadap sunat meliputi bayi yang tidak sehat, kelainan anatomi seperti hipospadia dan genitalia ambigu, penis yang terkubur atau tersembunyi, dan gangguan perdarahan pasien yang tidak dikoreksi. Prosedur harus ditunda jika bayi diketahui memiliki kelainan elektrolit atau metabolik seperti hipoglikemia, infeksi bakteri, tidak buang air kecil, atau gangguan jantung hipoksia. Sunat tidak boleh dilakukan dalam 12 jam pertama setelah lahir, jika ada infeksi aktif, jika pasien tidak sehat atau berada di unit perawatan intensif/unit perawatan intensif neonatal, jika pasien mengalami penyakit kuning neonatal, atau jika pasien belum buang air kecil [4].
Fisiologis
Secara fisiologis metode sirkumsisi akan mengalami tahapan proses penyembuhan luka terdiri dari beberapa fase antara lain (1) fase hemostasis yaitu setelah kulit berdarah akibat insisi maka beberapa detik sel darah membentuk gumpalan darah berfungsi melindungi luka dan mencegah darah keluar lebih banyak, selain sel darah (trombosit) gumpalan tersebut mengandung protein disebut fibrin membentuk jaring agar gumpalan darah tetap pada tempatnya yang berlangsung selama 1-3 hari (2) fase inflamasi yaitu gumpalan darah mengeluarkan zat kimia yang menyebabkan peradangan seperti kemerahan, pembengkakan, nyeri yang mana sel darah putih akan menuju area luka dan melawan bakteri dan kuman di area tersebut dengan memproduksi zat kimia growth factors untuk memperbaiki jaringan rusak yang berlangsung selama hari keempat pasca luka sirkumsisi [1]
(3) fase proliferasi yaitu tubuh akan membentuk kolagen jaringan baru pada hasil observasi kasat mata pada fase ini luka tampak memudar kemerahannya dimana terdapat sel kulit mati disekitar area luka yang berlangsung selama hari ke lima pasca sirkumsisi. Pada tahap ini dianjurkan responden untuk rajin melakukan personal hygiene di area luka dengan dibersihkan dilakukan penyabunan ketika mandi (4) fase remodeling yaitu jaringan yang baru terbentuk saling menguatkan yang berlangsung mulai hari ke enam hingga beberapa hari atau minggu [1].
Teknik Sirkumsisi
Metode dorsal slit atau dorsumsisi umum digunakan, pada teknik ini glands dibebaskan dari kelenjar perlengkatan dengan bantuan forcep yang ditempatkan pada posisi jam 10 dan jam 1, dilakukan pemotongan pada kedua lapisan kulit pada posisi jam 12 hingga beberapa milimeter dari corona. Banyak teknik yang mengharuskan dilakukannya dorsal slit untuk memperlebar preputium bagian luar. Keuntungan dari teknik ini sendiri itu mudah mengatasi perdarahan, tidak terdapat insisi yang berlebihan, mukosa kulit nya bisa diatur, serta juga meminimalkan komplikasi yang dapat terjadi [2].
Selain itu, banyak pula metode yang mulai dikembangkan dalam pelaksanaan khitan sehingga proses khitan menjadi lebih mudah dan lebih cepat. Teknologi yang berkembang dalam sirkumsisi yang tadinya metode elektrokauter dengan jahitan bergeser ke metode sirkumsisi modern klem tanpa jahitan. Menurut Pratignyo, Sirkumsisi menjadi mudah baik untuk pasien maupun dokter atau operator, dengan ditemukannya beberapa alat bantu (device), seperti klem. Klem ini diciptakan untuk beberapa tujuan, antara lain mempersingkat waktu tindakan karena jahitan dan hemostasis dilakukan dengan cara memasang klem/jepitan oleh alat ini. Jika klem dipasang dengan benar, tingkat perdarahan sangat minim dan waktu operator untuk melakukan kontrol perdarahan bisa dihilangkan atau diminimalkan. Ada 2 prinsip kerja klem yang utama, prinsip pertama adalah menjepit preputium sebelum dilakukan pemotongan untuk mencegah perdarahan sekaligus menimbulkan nekrosis di bagian yang dijepit. Fungsi klem yang kedua adalah melindungi glans penis dari resiko trauma saat pemotongan preputium [5].
Komplikasi
Perdarahan pasca sirkumsisi mayoritas adalah berupa bercak darah dan aliran darah dari luka tindakan. Pada mayoritas pasien perdarahan dapat berhenti dengan sendirinya, dapat diatasi dengan pembebatan sederhana, atau pemberian adrenalin atau agen anti hemostatik topikal. Perdarahan biasanya berasal dari frenulum maupun sisi dorsal dari penis. Usia mempengaruhi komplikasi perdarahan pasca sirkumsisi diperkirakan karena perbedaan dari ukuran dan jumlah pembuluh darah di kulit penis serta perbedaan tekanan darah sistemik [6].
Tatalaksana
Semua pasien yang telah dilakukan sirkumsisi diberikan dua jenis obat, yaitu antibiotik yang bertujuan untuk mengurangi risiko terjadinya infeksi post- sirkumsisi, serta analgetik (anti nyeri), guna mengurangi nyeri yang dirasakan oleh pasien. Kepada pasien (orang tua atau wali pasien) juga dilakukan edukasi mengenai cara perawatan luka sirkumsisi yang baik dan benar, guna mempercepat penyembuhan luka dan mencegah infeksi sekunder [3].
Follow-up post-sirkumsisi yang dilakukan adalah berupa perawatan luka dan penggantian perban sebanyak 3 kali. Semua pasien mengalami penyembuhan luka sirkumsisi dalam rentang waktu 1-2 minggu, serta tidak ditemukan adanya laporan kejadian infeksi post-sirkumsisi [3].
Prognosis
Tindakan sirkumsisi merupakan tindakan bedah yang meninggalkan luka setelah prosedur pelaksanaanya sehingga memerlukan prosedur perawatan khusus untuk mencegah terjadinya infeksi dan gangguan aktivitas pasien prosedur sirkumsisi. Setelah seseorang melaksanakan sirkumsisi, akan membutuhkan waktu antara satu minggu sampai sepuluh hari agar bekas luka kering sehingga menutup dengan sempurna [6].
Sumber:
1. Purhadi., Ediyono, S. Hubungan Pengetahuan Sirkumsisi Metode Klamp Super Ring dengan Proses Penyembuhan Luka di Praktik Mandiri Penawangan Kabupaten Grobogan. Journal of TSCNers. 2023; Vol 8 (2): 72-80.
2. Ultsany, M., et al. Sirkumsisi Menjaga Kebersihan dan Mencegah Risiko Infeksi serta Keganasan Penis. Jurnal Pengabdian Kesehatan . 2024; Vol 2 (2): 50-54.
3. Selomo, P. A. M., Darmayanti, D. Kegiatan Sirkumsisi. Jurnal Pengabdian Kesehatan. 2022; Vol 1 (2).
4. Warees, M., et al. Sirkumsisi. Treasure Island: Statpearls Publishing. 2024.
5. Thalib, A., Hasan,H. Perbandingan Percepatan Penyembuhan Luka Sirkumsisi Menggunakan Elektrokauter dengan Modern Klem di Wilayah Kerja Puskesmas Pembantu Liang Kabupaten Maluku Tengah 2021. Pasapua Health Journal. 2021; Vol 4 (2): 120-124.
6. Deskianditya, R. B., et al. Komplikasi Nyeri dan Perdarahan Pasca Sirkumsisi Metode Klem. Jurnal Kesehatan Islam. 2021; Vol 10 (2): 77-83.








Leave a Reply