a. Definisi Kolelitiasis
(batu empedu) adalah kristal yang dapat ditemukan di dalam kandung empedu, saluran empedu, atau keduanya. Batu empedu terbagi menjadi tiga jenis yaitu batu kolesterol, batu pigmen (batu bilirubin), dan batu campuran. Batu pigmen terdiri dari pigmen coklat dan pigmen hitam, dan batu kolesterol adalah jenis yang paling sering dijumpai. Batu kolesterol umumnya berbentuk oval, multifokal atau mulberry dan mengandung lebih dari 70% kolesterol. Batu pigmen kalsium bilirubinat (pigmen coklat) umumnya berwarna coklat atau coklat tua, lunak, mudah dihancurkan dan mengandung kalsium bilirubinat sebagai komponen utama, batu pigmen coklat terbentuk akibat adanya faktor statis dan infeksi saluran empedu. Batu pigmen hitam biasanya ditemukan pada pasien hemolisis kronik atau sirosis hati [1].
b. Epidemiologi
Prevalensi batu empedu meningkat seiring bertambahnya usia, dan kebutuhan intervensi sekunder akibat batu empedu semakin meningkat di kalangan lansia, individu Hispanik, dan perempuan; penduduk asli Amerika juga memiliki prevalensi batu empedu yang tinggi. Batu empedu kolesterol meningkat di seluruh dunia, terutama di negara-negara Barat, dan diperkirakan berdampak pada 20% populasi Eropa. Di negara berkembang, batu yang berasal dari bilirubin lebih umum dan berhubungan dengan gangguan hematologi dan infeksi saluran empedu [2].
c. Etiologi
Batu empedu terbentuk dari produk empedu yang mengendap dari larutan, termasuk kolesterol, produk pemecahan sel darah merah, dan campuran kalsium bilirubinat, fosfat, karbonat, palmitat, dan kolesterol. Produk-produk ini tersuspensi dalam matriks glikoprotein musin yang bertindak sebagai faktor nukleasi untuk pembentukan batu. Zat tambahan seperti prostaglandin dan lesitin arakidonat mendorong kristalisasi batu [2].
d. Patofisiologi
Batu empedu terjadi ketika zat-zat dalam empedu melebihi kelarutannya. Ketika empedu menjadi super jenuh, kristal-kristal kecil mengendap dan tersangkut dalam lendir kandung empedu, sehingga menghasilkan endapan kandung empedu. Seiring waktu, kristal kristal ini menyatu dan membentuk batu besar. Batu-batu ini seringkali bersifat mobile dan dapat bermigrasi ke dalam saluran empedu. Kolangitis dan pankreatitis dapat terjadi jika sistem empedu tersumbat. Batu yang terdiri dari kalsium bilirubinat juga dapat terbentuk terutama di dalam saluran empedu, sedangkan batu yang terbentuk di dalam kandung empedu sebagian besar adalah batu kolesterol [2]. Transporter kolesterol dapat memengaruhi jumlah kolesterol dalam darah atau empedu. Lesitin meningkatkan konsentrasi kolesterol dalam empedu yang dibawa oleh vesikel lesitin yang menyatu dan membentuk kristal hidrat kolesterol, yang kemudian menjadi inti batu kolesterol. Komposisi empedu mempengaruhi laju kristalisasi kolesterol, dan kandung empedu yang hipoaktif memberikan lebih banyak waktu bagi kristal untuk terbentuk. Lamela fosfolipid juga mengangkut kelebihan kolesterol dan berperan dalam kristalisasi kolesterol bersama dengan prostaglandin dan lesitin arakidonat. Granulosit dan neutrofil tertarik ke kristal kolesterol, dan neutrofil melepaskan asam deoksiribonukleat ke kristal, yang kemudian menarik kristal serupa, sehingga membentuk batu yang lebih besar [2].
e. Gejala dan Diagnosis
Berikut penjelasan mengenai gambaran klinis dan temuan pemeriksaan pada kolelitiasis: [1]
-
Setengah sampai dua pertiga penderita kolelitiasis adalah asimtomatis
-
Keluhan yang sering muncul yaitu dispepsia (rasa tidak nyaman pada perut bagian atas)
-
Intoleransi terhadap makanan berlemak
-
Nyeri utama dirasakan di daerah epigastrium atau perikondrium
-
Rasa nyeri lain yang dapat dikeluhkan adalah kolik bilier yang berlangsung lebih dari 15 menit dan baru menghilang beberapa jam kemudian dengan nyeri bertambah saat menarik nafas dalam
-
Pada pemeriksaan fisik didapatkan murphy sign positif dengan nyeri tekan yang meningkat saat menarik napas panjang dan hepar dapat teraba saat pemeriksaan perut
f. Faktor Resiko
Faktor resiko kolelitiasis adalah usia, jenis kelamin, berat badan, makanan, aktivitas fisik, nutrisi intravena jangka lama. Orang dengan usia >40 tahun memiliki kecenderungan terkena kolelitiasis dibanding dengan usia yang lebih muda dikarenakan meningkatnya sekresi kolesterol dalam empedu sesuai dengan bertambahnya usia. Wanita dua kali lipat lebih beresiko terkena kolelitiasis dibandingkan pria dikarenakan hormon estrogen berpengaruh terhadap peningkatan sekresi kolesterol oleh kandung empedu. Kurangnya aktivitas fisik meningkatkan risiko terjadi kolelitiasis dikarenakan kandung empedu lebih sedikit berkontraksi [1].
g. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang dapat dilakukan pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan radiologi. Pemeriksaan laboratorium akan ditemukan kenaikan serum kolesterol, kenaikan fosfolipid, penurunan ester kolesterol, kenaikan protrombin serum time, penurunan urobilinogen, peningkatan sel darah putih, dan peningkatan serum amilase. Pemeriksaan USG mempunyai kadar spesifitas yang tinggi dan sensitifitas 96% untuk mendeteksi kolelitiasis. Pemeriksaan USG juga dapat mendeteksi batu berukuran 2 mm dan membedakan adanya penebalan dinding kandung empedu karena proses inflamasi. Pemeriksaan kolesistografi oral merupakan pemeriksaan terbaik untuk mengetahui jenis batu, namun pemeriksaan akan gagal pada keadaan ileus paralitik, muntah, kadar bilirubin serum diatas 2 mg/dl, obstruksi pylorus dan hepatis, dikarenakan pada keadaan tersebut kontras tidak dapat mencapai hati [1].
h. Tatalaksana
Tatalaksana kolelitiasis dibedakan menjadi 2 yaitu penatalaksanaan non bedah dan bedah. Oral dissolution therapy yaitu penghancuran batu dengan pemberian obat oral, pemberian obat ini dapat menghancurkan batu pada 60% pasien kolelitiasis namun pada anak anak terapi ini tidak dianjurkan kecuali anak dengan resiko tinggi untuk menjalani operasi. Disolusi kontak yaitu cara untuk menghancurkan batu dengan memasukan cairan pelarut ke dalam kandung empedu melalui kateter perkutaneus melalui hepar atau kateter nasobilier, larutan yang dipakai adalah methyl terbutyl ether yang dimasukan ke dalam kandung empedu dan mampu menghancurkan batu empedu dalam 24 jam. Tatalaksana bedah terbagi menjadi kolesistektomi terbuka dan kolesistektomi laparoskopi. Kolesistektomi terbuka merupakan standar terbaik untuk pasien dengan kolelitiasis simtomatik. Indikasi kolesistektomi laparoskopi adalah pasien dengan kolelitiasis simtomatik tanpa adanya kolesistitis akut. kolesistektomi merupakan baku emas (gold standard) untuk tatalaksana kolelitiasis dengan gejala [1].
i. Komplikasi Batu
empedu dapat menghambat motilitas kandung empedu dan menyebabkan peradangan, yang menyebabkan kolesistitis akut atau kronis, empiema, kolesistitis gangren, dan kolesistitis emfisematosa. Batu yang tersangkut di dalam duktus biliaris komunis menyebabkan obstruksi, yang menyebabkan penyakit kuning, dilatasi proksimal dari pohon empedu, pankreatitis, dan kolangitis [2]. j. Prognosis Batu empedu memiliki prognosis yang baik, individu yang menjalani kolesistektomi mungkin mengalami kembung ringan dan gejala gastrointestinal lainnya, seperti diare pasca makan, yang diperburuk oleh makanan berlemak, tetapi secara umum memiliki umur panjang dan kualitas hidup yang sebanding dengan mereka yang tidak memiliki batu empedu [2].
k. Pencegahan dan Edukasi
Mengkonsumsi makanan asupan lemak tak jenuh tunggal, serat, minyak zaitun, asam lemak omega-3, dan protein nabati yang lebih tinggi bersifat protektif terhadap batu empedu. Asam lemak tak jenuh ganda dapat membantu pengosongan kandung empedu, sementara protein nabati, buah dan sayur kaya vitamin C, serta kopi dapat meningkatkan motilitas kandung empedu. Selain itu, olahraga dapat membantu mengurangi pembentukan batu empedu [2].
Sumber:
1. Adhata, A. R., Syazili, M., Tri, U. S. Diagnosis dan Tatalaksana Kolelitiasis.. Medula Journal. 2022; 12 (1): 75-78.
2. Jones, M. W., Connor, B. W., Mia, M. Gallstones (Cholelithiasis). Treasure Island: Statpearls Publishing. 2025.








Leave a Reply